Break Even Point
MANAJEMEN KEUANGAN
LANJUT
Disusun oleh :
ANDHI SUPRIYADI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Break Even
Point merupakan suatu teknik analisa untuk
mempelajari hubungan antara Biaya Tetap, atau suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung
maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). Break Event Point menyatakan volume penjualan dimana total penghasilan
tepat sama besarnya dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak memperoleh
keuntungan dan juga tidak menderita kerugian.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian break even
Pengertian
analisa break even menurut Sigit (1993, p. 2) adalah suatu cara atau suatu
teknik yang digunakan oleh seorang petugas atau manajer perusahaan untuk
mengetahui pada volume (jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah
perusahaan yang bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh
laba.
Definisi analisa break
even menurut Schmidgall, Hayes, dan Ninemeier (2002) adalah, “Break even
analysis is a management tool that can help restaurant managers examine the
relationship between various costs, revenues and sales volume. It allows to
determine revenue required at any desired profit level that called
Cost-Volume-Profit (CVP) analysis” (p. 169). yang kurang lebih memiliki arti :
analisa titik impas adalah suatu alat manajemen yang dapat membantu manajer
restoran untuk melihat hubungan antara bermacam-macam biaya, pendapatan dan
volume penjualan. Melalui analisa titik impas, manajer juga dapat menentukan
jumlah pendapatan yang diperlukan pada suatu tingkat pencapaian laba yang
diinginkan yang juga biasa disebut Analisis Biaya-Volume-Laba .
Menurut Mulyadi (1993,
230) Analisa break even adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan
minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh
laba yang dengan kata lain labanya sama dengan nol.
Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut dapat menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita rugi.
Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut dapat menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita rugi.
Menurut Rony (1990, p.
358) Analisa break even atau disebut Analisis titik impas merupakan sarana bagi
manajemen untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah
biaya sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian.
Bambang Riyanto, dalam bukunya "Dasar-dasar pembelanjaan Perusahaan" mengemukakan pengertian Analisa Break Even sebagai berikut:
Bambang Riyanto, dalam bukunya "Dasar-dasar pembelanjaan Perusahaan" mengemukakan pengertian Analisa Break Even sebagai berikut:
"Analisa Break
Even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap,
biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena analisa tersebut
mempelajari hubungan antara biaya - keuntungan - volume, maka analisa tersebut sering
juga disebut 'cost-profit volume analysis (CPV analysis)', (1982: 290)".
B. Manfaat Analisa Break Even
Menurut Rony (1990, p. 357) analisis titik
impas atau analisis Break Even Point sangat bermanfaat bagi manajemen dalam
menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting dalam tiga cara berbeda
namun tetap berkaitan yaitu:
1.
Pertimbangan tentang produk baru dalam
menentukan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan
memperoleh laba.
2.
Sebagai kerangka dasar penelitian
pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional.
3.
Membantu manajemen dalam menganalisis
konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi biaya tetap karena otomisasi
mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih.
Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa break
even untuk manajemen,
yaitu :
1.
Membantu pengendalian melalui anggaran.
2.
Meningkatkan dan menyeimbangkan
penjualan.
3.
Menganalisa dampak perubahan volume.
4.
Menganalisa harga jual dan dampak
perubahan biaya.
5.
Merundingkan upah.
6.
Manganalisa bauran produk.
7.
Manerima keputusan kapitalisasi dan
ekspansi lanjutan.
8.
Menganalisa margin of safety.
Sedangkan menurut Sigit
(1993, p. 1) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya
adalah :
1. Sebagai
dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu.
2. Sebagai
dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan.
3. Sebagai
bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.
4. Sebagai
bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan
C. Asumsi-Asumsi Dasar Analisa Break Even Point :
Beberapa asumsi yang berpengaruh dalam analisa break even menurut Mulyadi (1993, p. 259) adalah sebagai berikut :
1. Variabilitas
biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan.
2. Harga
jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan.
3. Kapasitas
produksi pabrik dianggap secara relative konstan.
4. Harga
faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah.
5. Efisiensi
produksi dianggap tidak berubah.
6. Perubahan
jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan.
7. Komposisi
produk yang dijual dianggap tidak berubah.
8. Volume
merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya
D. Dampak
Perubahan dari Beberapa Faktor dalam Analisa Break Even Point Menurut Mulyadi
dalam buku Akuntansi Manajemen (1993, 259):
1. Suatu
perubahan dalam biaya variabel akan mengakibatkan perubahan dalam contribution
margin dan impas.
2. Suatu
perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution
margin dan impas.
3. Angka
laba kontribusi hanya akan dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variabel dan
harga jual.
4. Suatu
perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tapi tidak
mempengaruhi laba kontribusi.
5. Suatu
perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variabel pada arah yang sama
akan menyebabkan perubahan tajam terhadap impas.
E. Contoh perhitungan
Break event point
a. Rumus Perhitungan
BEP
1.
BEP-Rupiah = Total Fixed Cost x Harga jual /
unit
Harga jual per unit - variable cost
Harga jual per unit - variable cost
2. BEP-Unit = Fixed Cost
Harga Jual – Variabel Cost
3. BEP
untuk produk ganda = FC/ [(1-v/c)xWi]
Keterangan
:
·
Biaya Tetap(FC) adalah biaya yang jumlahnya tetap walaupun usaha anda tidak sedang
berproduksi seperti biaya gaji karyawan, biaya penyusutan peratalan usaha,
biaya asuransi. Dll.
·
Biaya Variable (VC) adalah biaya yang jumlahnya akan meningkat seiring dengan peningkatan
jumlah produksi. Misalnya bahan baku, bahan bakar, biaya listrik dll.
·
Harga per unit adalah harga jual barang atau
jasa yang dihasilkan.
·
Biaya Variable per unit adalah total
biaya variable dibagi dengan jumlah unit yang di produksi atau dengan kata lain
biaya rata-rata per unit.
·
Margin Kontribusi per unit adalah selisih
harga jual per unit dengan biaya variable per unit.
·
Wi: presentasi dari total penjualan (Rp) tiap produk,
disebut bobot kontribusi margin.
b. Contoh Kasus BEP
1.
Contoh 1
Fixed Cost suatu toko
sepatu : Rp.500.000,-
Variable cost Rp.10.000 / unit
Harga jual Rp. 20.000 / unit
Variable cost Rp.10.000 / unit
Harga jual Rp. 20.000 / unit
Maka BEP per unitnya adalah
BEP = Fixed
Cost
Harga Jual – Variabel Cost
BEP
= Rp.500.000
20.000 – 10.000
20.000 – 10.000
= 50 unit
Artinya perusahaan perlu menjual 50 unit sepasang sepatu agar terjadi break
even point. Pada pejualan unit ke 51, maka took itu mulai memperoleh
keuntungan.
Contoh BEP untuk menghitung berapa uang
penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :
Total Fixed Cost
__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit - variable cost
Dengan menggunakan
contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima agar
terjadi BEP adalah
Rp.500.00 x
Rp.20.000 = Rp.1.000.000,
20.000 – 10.000
20.000 – 10.000
2.
Contoh 2
Sebuah perusahaan yang diberi
nama “Usaha Maju” memiliki data-data biaya dan rencana produksi seperti berikut
ini :
a.
Biaya Tetap sebulan adalah sebesar Rp.140juta
yaitu terdiri dari :
biaya gaji pegawai + pemilik = Rp.75,000,000
biaya penyusutan mobil kijang = Rp. 1,500,000
biaya asuransi kesehatan = Rp.15,000,000
biaya sewa gedung kantor = Rp.18,500,000
biaya sewa pabrik = Rp.30,000,000
b.
Biaya variable per unit Rp.
75,000.00 yaitu terdiri dari :
biaya bahan baku = Rp.35,000
biaya tenaga kerja langsung = Rp.25,000
biaya lain
= Rp.15,000
c.
Harga Jual per
Unit Rp.95,000.
Sekarang mari kita hitung berapa tingkat BEP usaha tersebut baik dalam unit
maupun dalam rupiah :
BEP unit adalah
= Biaya Tetap / (harga per unit – biaya variable per unit)
= Rp.140juta / (Rp.95,000 – Rp.75,000)
= Rp.140juta / Rp.20,000
= 7,000 unit
BEP Rupiah adalah
= Total Fixed Cost x Harga jual / unit
Harga jual per unit - variable cost
Harga jual per unit - variable cost
=Rp.140
juta x Rp. 95.000
Rp.95.000 – Rp.75.000
= Rp.140 juta x Rp. 95.000
Rp. 20.000
= Rp 665.000.000
Penjelasan perhitungan BEP :
Untuk dapat beroperasi dalam kondisi
BEP yaitu laba nol, perusahaan Usaha Maju
harus dapat menghasilkan produk sebanyak 7,000 unit dengan harga
Rp.95,000 unit, maka jumlah penjualannya akan menjadi Rp.665.000.000
Aplikasi BEP untuk penghitungan target laba.
Dengan mengetahui kapan perusahaan
melewati tingkat BEP, maka anda sebagai manager atau pemilik Usaha Maju Terus
akan dapat menghitung berapa minimal penjualan untuk mendapatkan laba yang anda
targetkan, yaitu dengan cara menambahkan laba yang ditargetkan tersebut dengan
biaya tetap yang anda miliki.
Misalkan target laba anda sebulan adalah Rp.75 juta, maka minimal penjualan
yang anda harus capai adalah sebagai berikut :
BEP – Laba = (Biaya Tetap + Target
Laba) / (Harga per unit – Biaya Variable/ unit)
= (Rp.140juta + Rp.75juta) /
(Rp.95,000 – Rp.75,000)
= Rp.215juta / Rp.20,000
= 10,750 unit
Mari kita buktikan perhitungan
tersebut diatas, apakah benar dengan menjual sebanyak 10,750 unit Usaha Maju
Terus akan mendapatkan laba sebesar Rp.75,000,000.
|
A
|
Penjualan
|
Rp.1.021.250.000
|
|
|
B
|
Dikurangi:
|
||
|
1. biaya
tetap
|
Rp. 140.000.000
|
||
|
2. biaya
variabel (10.750xRp.75.000)
|
Rp. 806.250.000
|
||
|
Total biaya
|
Rp. 946250000
|
||
|
C
|
Laba/Rugi
|
Rp. 75.000.000
|
|
Kesimpulan :
Terbukti.
3.
Contoh BEP untuk produk ganda.
Sebuah
restoran mempunyai fixed cost sebesar RP. 10.000.000/ bulan. Restoran ini
menghidangkan empat jenis produk makanan dan minuman yakni A, B, C, D yang data
harga jual, biaya per unit serta perkiraan unit yang terjual adalah sbb:
|
Produk
|
Harga
(RP)
|
Variabel
Cost (Rp)
|
Perkiraan
unit yg terjual/bulan
|
|
A
|
2.500
|
1.500
|
3.000
|
|
B
|
3.000
|
2.500
|
2.000
|
|
C
|
1.500
|
500
|
2.500
|
|
D
|
4.000
|
3.000
|
1.500
|
Tentukan
BEP (Rp) dalam satu bulan.
Penyelesaian:
|
Produk
|
harga
|
VC
|
VC/P
|
1-VC/P
|
Perkiraan
Hasil penjualan (Rp)
|
%Hasil
penjualann (Wi)
|
Bobot
kontribusi
|
|
A
|
2.500
|
1.500
|
0,60
|
0,40
|
7.500.000
|
0,32
|
0,128
|
|
B
|
3.000
|
2.500
|
0,83
|
0,17
|
6.000.000
|
0,26
|
0,044
|
|
C
|
1.500
|
5.00
|
0,33
|
0,67
|
3.750.000
|
0,16
|
0,107
|
|
D
|
4.000
|
3.000
|
0,75
|
0,25
|
6.000.000
|
0,26
|
0,065
|
|
JUMLAH
|
|
|
|
|
23.250.000
|
1,00
|
0,344
|
BEP
(RP) dlam 1 bulan= 10.000.000 =Rp.
29.069.767
0,344
BAB
III
PENUTUP
III.I Kesimpulan
BEP
(Break Even Point) adalah titik dimana ketentuan penerimaan total sama dengan
pengeluaran total. Analisis BEP membutuhkan suatu perkiraan biaya tetap (fixed
cost), biaya variabel (variabel cost) dan penerimaan (revenue).
Apabila perusahaan di dalam kegiatan
operasinya menggunakan biaya tetap dan pada volume penjualan hanya bisa menutup
biaya tetap dan biaya variabel saja. Dengan Break Even Point ,manajer
perusahaan dapat mengindikasikan tingkat penjualan yang disyaratkan
agar tidak menderita kerugian, dan disarankan dapat mengambil langkah-langkahyang
tepat untuk masa akan datang. Dengan mengetahui titik impas ini,manajer juga
dapat mengetahui sasaran volume penjualan minimal yang harus diraih oleh
perusahaan tersebut.
III.II
Saran
Penulis menyarankan setelah mengetahui
bagaimana cara perhitungan BEP, maka para manager atau pemilik usaha untuk bisa
menganalisis BEP, karena BEP memiliki beberapa manfaat.

Komentar
Posting Komentar