MAKALAH Material Handling
MAKALAH Material
Handling
Disusun oleh :
1. ANDHI SUPRIYADI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2014/2015
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Material handling adalah suatu kegiatan yang memindahkan bahan baku, barang
setengah jadi maupun barang jadi dari suatu titik ke titik yang lain atau dari
suatu stasiun kerja satu ke stasiun kerja yang lain atau berikutnya dengan
jarak tertentu. Material handling sangat dibutuhkan dan berperan penting dalam
menjamin kelancaran proses produksi suatu barang. Material handling dapat
mempercepat proses produksi apabila proses material handlingnya lancar.
Sebaliknya akan menghambat proses produksi apabila proses material handlignya
buruk.
Material handling juga berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan. Setiap jarak yang ditempuh dalam perpindahan bahan sangat
berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan. Biaya tersebut
dikeluarkan dalam biaya penangaan bahan, pengadaan alat-alat yang
dibutuhkan dalam penanganan bahan serta biaya kerusakan bahan yang terjadi
ketika perpindahan bahan. Metode yang digunakan dalam material handling atau
penanganan bahan sangat bergantung terhadap bahan yang akan ditangani. Sehingga
peralatan yang akan digunakan harus sesuai dengan bentuk, sifat dan
karakteristik dari bahan yang akan ditangani. Ketepatan pemilihan metode dan
peralatan dapat mengefisiensikan biaya yang dikeluarkan untuk penanganan bahan.
Dalam material handling, tata letak atau layout produksi sangat berpengaruh.
Karena layout produksi menunjukan kemana bahan harus dipindahkan untuk menjalani
proses berikutnya. Material handling dapat lancar apabila layout atau tata
letak peralatan produksi dalam pabrik juga baik. Layout atau tata letak
peralatan produksi yang baik akan mengurangi jarak yang akan ditempuh dalam
penanganan bahan sehingga akan dapat menghemat biaya perpindahan serta
mengurangi kerusakan bahan pada saat dipindahkan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Material Handling
Material handling menurut
Material Handling Industry of America didefinisikan sebagai
pergerakan (movement), penyimpanan (storage),
perlindungan (protection),
pengendalian (control) material diseluruh proses manufaktur
dan
distribusi termasuk penggunaan dan
pembuangannya. Menurut material handling handbook didefinisikan
sebagai penyediaan
material dalam jumlah
yang tepat, kondisi yang tepat, pada
posisi yang
tepat, diwaktu yang
tepat, pada tempat yang tepat untuk mendapatkan
ongkos yang
efisien. Material adalah seluruh
bahan yang dibutuhkan dalam suatu proses produksi meliputi material curah, material unit,
aliran informasi dan kertas kerja.
Salah satu
masalah penting dalam produksi
ditinjau dari
segi
kegiatan atau
prosesproduksi adalah
bergeraknya
material dari satu tingkat ke tingkat proses
produksi berikutnya.
Memungkinkan proses produksi dapat berjalan
dibutuhkan adanya kegiatan pemindahan material
yang disebut dengan material handling.
Material handling mempunyai arti penanganan
material dalam jumlah yang
tepat dari
material yang sesuai dalam waktu
yang baik pada
tempat yang
cocok, pada waktu yang tepat
dalam
posisi yang benar,
dalam
urutan yang sesuai dan biaya yang
murah
dengan menggunakan metode yang benar.
Gambar 1. Penanganan material handling secara manual
Terdapat juga
banyak defenisi atau pengertian yang diberikan untuk material handling. Berikut
ada dua defenisi secara umum:
1.Material Handling adalah seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan, penyimpanan, perlindungan dan pengawasan material.
2. Material Handling mempunyai arti penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai dalam kondisi yang baik pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai dan biaya yang murah dengan menggunakan metode yang benar. Jika digunakan metode yang sesuai, maka sistem material handling akan terjamin/aman dan bebas dari kerusakan.
1.Material Handling adalah seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan, penyimpanan, perlindungan dan pengawasan material.
2. Material Handling mempunyai arti penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai dalam kondisi yang baik pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai dan biaya yang murah dengan menggunakan metode yang benar. Jika digunakan metode yang sesuai, maka sistem material handling akan terjamin/aman dan bebas dari kerusakan.
Tujuan
Material Handling
Tujuan utama dari perencanaan material handling adalah untuk mengurangi biaya produksi. Selain itu, material handling sangat berpengaruh terhadap operasi dan perancangan fasilitas yang diimplementasikan.
Tujuan utama dari perencanaan material handling adalah untuk mengurangi biaya produksi. Selain itu, material handling sangat berpengaruh terhadap operasi dan perancangan fasilitas yang diimplementasikan.
Beberapa
tujuan dari sistem material handling antara lain:
1. Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan dan memberikan perlindungan terhadap material.
2. Meningkatkan keamanan dan mengembangkan kondisi kerja.
3. Meningkatkan produktivitas:
a. Material akan mengalir pada garis lurus
b. Material akan berpindah dengan jarak sedekat mungkin
c. Perpindahan sejumlah material pada satu kali waktu
d. Mekanisme penanganan material
e. Otomasi penanganan material
f. Menjaga atau mengembangkan rasio antara produksi dan penanganan material,
g. Meningkatkan muatan/beban dengan penggunaan peralatan material handling otomatis.
1. Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan dan memberikan perlindungan terhadap material.
2. Meningkatkan keamanan dan mengembangkan kondisi kerja.
3. Meningkatkan produktivitas:
a. Material akan mengalir pada garis lurus
b. Material akan berpindah dengan jarak sedekat mungkin
c. Perpindahan sejumlah material pada satu kali waktu
d. Mekanisme penanganan material
e. Otomasi penanganan material
f. Menjaga atau mengembangkan rasio antara produksi dan penanganan material,
g. Meningkatkan muatan/beban dengan penggunaan peralatan material handling otomatis.
4.
Meningkatkan tingkat penggunaan fasilitas
a. Menigkatkan penggunaan bangunan
b. Pengadaan bangunan serbaguna
c. Standarisasi peralatan material handling
d. Menjaga, dan menempatkan seluruh peralatan sesuai kebutuhan dan mengembangkan program pemeliharaan inventif.
e. Integrasi seluruh peralatan material handling dalam suatu sistem.
5. Sebagai pengawasan persediaan
a. Menigkatkan penggunaan bangunan
b. Pengadaan bangunan serbaguna
c. Standarisasi peralatan material handling
d. Menjaga, dan menempatkan seluruh peralatan sesuai kebutuhan dan mengembangkan program pemeliharaan inventif.
e. Integrasi seluruh peralatan material handling dalam suatu sistem.
5. Sebagai pengawasan persediaan
Pertimbangan
Perancangan Sistem Material Handling
Sistem material handling pada dasarnya dilakukan guna meningkatkan efisiensi perpindahan material dari satu departemen ke departemen lainnya. Dengan aliran material handling, biaya material handling akan dapat ditekan seminimal mungkin. Efisiensi dapat berwujud jika proses perpindahan material tersebut menggunakan sistem dan peralatan yang sesuai. Keputusan mengenai sistem dan peralatan pemindahan material harus didasarkan atas pertimbanagan-pertimbagan yang matang.
Pertimbangan yang harus dilakukan antara lain menyangkut:
1. Karakteristik material
2. Tingkat aliran
3. Tipe tata letak pabrik
Sistem material handling pada dasarnya dilakukan guna meningkatkan efisiensi perpindahan material dari satu departemen ke departemen lainnya. Dengan aliran material handling, biaya material handling akan dapat ditekan seminimal mungkin. Efisiensi dapat berwujud jika proses perpindahan material tersebut menggunakan sistem dan peralatan yang sesuai. Keputusan mengenai sistem dan peralatan pemindahan material harus didasarkan atas pertimbanagan-pertimbagan yang matang.
Pertimbangan yang harus dilakukan antara lain menyangkut:
1. Karakteristik material
2. Tingkat aliran
3. Tipe tata letak pabrik
2.
Peralatan Material Handling
Tulang punggung sistem material handling adalah
peralatan material handling. Sebagian besar peralatan yang ada mempunyai
karakteristik dan harga yang berbeda. Semua peralatan material handling diklasifikasikan
ke dalam tiga tipe utama yaitu: Conveyor (ban berjalan), Crane (derek),
dan trucks (alat angkut/kereta).
a.
Conveyor
Conveyor digunakan untuk memindahkan material
secara kontinyu dengan jalur yang tetap.
Keuntungan Conveyor
:
1. Kapasitas
tinggi sehingga memungkinkan untuk memindahkan material dalam jumlah besar.
2. Kecepatan
dapat disesuaikan.
3. Penanganan
dapat digabungkan dengan aktivitas lainnya seperti proses dan inspeksi.
4. Serba
guna dan dapat ditaruh di atas lantai maupun di atas operator.
5.Bahan
dapat disimpan sementara antar stasiun kerja.
6. Pengiriman/pengangkutan
bahan secara otomatis dan tidak memerlukan bantuan beberapa operator.
7. Tidak memerlukan gang.
Kerugian Conveyor
:
1. Mengikuti
jalur yang tetap sehingga pengangkutan terbatas pada area tersebut.
2. Kerusakan
pada salah satu bagian conveyor akan menghentikan aliran proses.
3. Conveyor
ada pada tempat yang tetap, sehingga akan mengganggu gerakan peralatan
bermesin lainnya.
Pada lingkungan industri, terdapat beberapa tipe conveyor
yang biasa dipergunakan, antara lain belt conveyor, roller
conveyor, screw conveyor, chain conveyor, dan sebagainya.
Gambar berikut ini merupakan contoh conveyor.
b. Cranes dan Hoists
Cranes (derek) dan Hoists (kerekan)
adalah peralatan di atas yang digunakan untuk memindahkan beban secara
terputus-putus dengan area terbatas.
Keuntungan :
1.Dimungkinkan untuk mengangkat dan memindahkan benda.
2.Keterkaitan dengan lantai kerja/produksi sangat
kecil.
3.Lantai kerja yang berguna untuk kerja dapat dihemat
dengan memasang peralatan handling berupa cranes.
Kerugian Cranes
dan Hoists :
1.Membutuhkan investasi yang besar.
2.Pelayanan terbatas pada area yang ada.
3.Crane hanya bergerak pada arah garis lurus dan tidak
dapat dibuat berputar/belok.
4.Pemakaian tidak dapat maksimal sesuai yang
diinginkan karena crane hanya digunakan untuk periode waktu yang pendek setiap
hari kerja.
Tipe cranes dan hoists juga banyak macamnya. Tipe cranes
terdiri dari: jib crane, bridge crane, gantry crane, tower crane,
stacker crane, dan sebagainya.
Berikut ini gambar dari crane.
Beberapa contoh hoists ditunjukkan pada gambar di
bawah ini :
c.
Trucks
Trucks yang digerakkan tangan atau mesin dapat
memindahkan material dengan berbagai macam jalur yang ada. Termasuk dalam
kelompok truck antara lain, forklift trucks, fork trucks, trailer trains,
automated guided vehicles (AGV), dan sebagainya.
Keuntungan :
1.
Perpindahan tidak menggunakan jalur yang tetap, oleh sebab itu dapat digunakan
di mana-mana selama ruangan dapat untuk dimasuki trucks.
2.
Mampu untuk loading, unloading dan mengangkat kecuali memindahkan material.
3.
Karena gerakannya tidak terbatas, memungkinkan untuk melayani tempat yang
berbeda.
Kerugian :
1.
Tidak mampu menangani beban yang berat.
2.
Mempunyai kapasitas yang terbatas setiap pengangkutan.
3.
Memerlukan gang
4.
Sebagian besar trucks harus dijalankan oleh operator
5.
Trucks tidak bisa melakukan tugas ganda.
Beberapa macam jenis truck industri ada pada gambar
dibawah ini :
Hand Truck
Forklift Truck
Automated Guided Vehicles (AGV)
3.
Pemindahan Bahan Secara Manual
Pengertian pemindahan
beban secara manual, menurut American Material Handling
Society bahwa
material handling
dinyatakan sebagai
seni dan ilmu yang meliputi penanganan (handling), pemindahan (moving), Pengepakan
(packaging), penyimpanan (storing) dan pengawasan (controlling) dari material dengan
segala bentuknya.(Wignjosoebroto, 1996).
Selama ini pengertian MMH hanya sebatas pada kegiatan lifting
dan lowering yang melihat aspek kekuatan vertikal. Padahal kegiatan
MMH tidak terbatas pada kegiatan tersebut diatas, masih ada kegiatan pushing
dan pulling di dalam kegiatan MMH. Kegiatan MMH yang sering
dilakukan oleh pekerja di dalam industri antara lain :
- Kegiatan pengangkatan benda (LiftingTask)
- Kegiatan pengantaran benda (Caryying Task)
- Kegiatan mendorong benda (Pushing Task)
- Kegiatan menarik benda (Pulling Task)
Pemilihan manusia sebagai tenaga kerja dalam melakukan
kegiatan penanganan material bukanlah tanpa sebab. Penanganan material secara
manual memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut :
Fleksibel
dalam gerakan sehingga memberikan kemudahan pemindahan beban pada ruang
terbatas dan pekerjaan yang tidak beraturan.
Untuk beban ringan akan lebih murah bila dibandingkan
menggunakan mesin.
Tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.
Pemindahan bahan
secara manual jika tidak dilakukan
secara ergonomis akan
menimbulkan kecelakaan kerja, yaitu kerusakan jaringan tubuh yang diakibatkan oleh beban angkat yang berlebihan.
Data mengenai insiden tersebut telah mencapai
nilai rata- rata 18% dari seluruh
kecelakaan selama tahun
1982-1985 menurut data statistik
tentang kompensasi para pekerja di Negara bagian
New South Wales Australia. Dari data kecelakaan ini 93% diantaranya diakibatkan oleh strain (rasa nyeri) yang berlebihan, sedangkan 5% lainnya pada hernia. Dari data tentang strain 61% diantaranya berada pada bagian punggung.
Rasa nyeri yang
kronis ini membutuhkan penyembuhan yang
cukup lama. Disamping itu, biaya
yang dikeluarkan merupakan bagian dominan dari keseluruhan biaya kecelakaan.
Faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya nyeri punggung (back injury) adalah arah beban yang akan diangkat dan
frekuensi aktivitas pemindahan.
Usaha untuk mengurangi hal tersebut
adalah dengan cara mengadakan pelatihan, pendidikan dan penyuluhan tentang pengaruh negatifnya serta perhatian
khusus pada perancangan produk yang nantinya akan dikonsumsi masyarakat.
Masyarakat harus sadar bahwa pada usia menengah (diatas
40 tahun) merupakan usia yang berpeluang besar untuk mendapatkan resiko ini.
Beberapa parameter yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
Beban yang harus diangkat.
Perbandingan antara berat bahan dan operator.
Jarak horisontal dari beban terhadap operator.
Ukuran beban yang diangkat ( beban yang berdimensi besar akan mempunyai
jarak pusat gravitasi yang lebih jauh dari tubuh dan dapat
mengganggu jarak pandangan
).
a. Manual Material
Handling Menurut OSHA
Akivitas manual material handling merupakan
sebuah aktivitas memindahkan beban oleh tubuh secara manual dalam rentang waktu
tertentu. Berbeda dengan pendapat di atas menurut Occupational Safety and
Health Administration (OSHA) mengklasifikasikan kegiatan manual material
handling menjadi lima yaitu :
1.
Mengangkat/Menurunkan (Lifting/Lowering)
Mengangkat adalah kegiatan memindahkan barang ke
tempat yang lebih tinggi yang masih dapat dijangkau oleh tangan. Kegiatan
lainnya adalah menurunkan barang.
2.
Mendorong/Menarik (Push/Pull)
Kegiatan mendorong adalah kegiatan menekan berlawanan
arah tubuh dengan usaha yang bertujuan untuk memindahkan obyek. Kegiatan
menarik kebalikan dengan itu.
3.
Memutar (Twisting)
Kegiatan memutar merupakan kegiatan MMH yang merupakan
gerakan memutar tubuh bagian atas ke satu atau dua sisi, sementara tubuh bagian
bawah berada dalam posisi tetap. Kegiatan memutar ini dapat dilakukan dalam
keadaan tubuh yang diam.
4.
Membawa (Carrying)
Kegiatan membawa merupakan kegiatan memegang atau
mengambil barang dan memindahkannya. Berat benda menjadi berat total pekerja.
5.
Menahan (Holding)
Memegang obyek saat tubuh berada dalam posisi diam
(statis)
4.
Faktor Resiko
Beberapa faktor yang berpengaruh
dalam pemindahan material adalah sebagai
berikut :
Berat bahan
yang
harus diangkat dan perbandingannya terhadap berat badan operator.
Jarak horisontal dari beban relatif terhadap operator.
Ukuran
beban yang harus diangkat
(ukuran beban yang besar) akan memiliki pusat massa yang letaknya jauh dari badan operator dan juga akan menghalangi pandangan operator.
Ketinggian
beban yang harus
diangkat dan jarak
perpindahan beban (mengangkat beban dari
permukaan lantai akan relatif lebih sulit daripada
mengangkat beban dari
ketinggian pada permukaan pinggang).
Beban puntir pada badan operator selama aktivitas
angkat beban.
Prediksi
terhadap berat bahan yang diangkat.
Hal ini adalah untuk mengantisipasi beban yang lebih berat dari yang diperkirakan.
Stabilitas beban yang akan diangkat.
Kemudahan
untuk dijangkau oleh operator.
Berbagai macam rintangan
yang menghalangi atau keterbatasan postur tubuh yang berada
pada suatu tempat kerja.
Frekuensi
aktivitas angkat.
Metode angkat yang benar (tidak boleh mengangkat beban secara tiba-tiba).
Tidak terkoordinasi kelompok kerja.
Pengangkatan suatu beban dalam suatu periode.
5. Beberapa Pendekatan untuk Mengurangi
Resiko
Kebutuhan untuk mengangkat secara manual harus benar-benar
diteliti secara ergonomis. Penelitian ini akan menghasilkan adanya standarisasi dalam aktivitas angkat manusia.Standar
kemampuan angkat tersebut
tidak hanya meliputi
arah beban, tetapi juga berisi
ketinggian dan jarak operator terhadap beban dan metode
angkat terbaik harus diimplementasikan.
6.
Penyelesaian untuk Pemindahan Material Secara Teknis
Beberapa penyelesaian secara teknis
untuk pemindahan material
secara manual adalah sebagai berikut :
Letakkan
benda kerja yang besar pada permukaan yang lebih tinggi dan turunkan
dengan bantuan gaya gravitasi.
Berikan peralatan yang dapat mengangkat.
Desainlah kotak tempat benda kerja yang disertai
hendel yang ergonomis
sehingga mudah pada waktu mengangkat.
Aturlah
peletakan fasilitas
sehingga semakin memudahkan metodologi angkat benda pada ketinggian permukaan pinggang.
Bebaskan
area kerja dari gerakan
dan peletakan material yang mengganggu jalur dari operator.
Hindarkan
lantai kerja dari sesuatu yang dapat membuat licin sehingga mambahayakan operator
pada saat perjalanan memindahkan material.
Buatlah
suatu ruang kerja yang cukup gerakan dinamis bebas operator.
Tempatkan
semua material sedekat mungkin operator.
7.
Batasan Beban Yang Boleh Diangkat
a.
Batasan Angkat Secara Legal (Legal Limitations)
Dalam rangka menciptakan suasana kerja yang aman dan
sehat maka perlu adanya suatu batasan angkat untuk operator. Pada bagian ini
akan dijelaskan beberapa batasan angkat secara legal dari berbagai Negara
bagian benua Australia yang digunakan untuk pabrik dan system bisnis manufaktur
lainnya. Batasan angkat ini dipakai sebagai batasan angkat secara
internasional. Adapun variabelnya adalah sebagai berikut :
Pria
dibawah usia 16th, maksimum angkat adalah 14 kg
Pria
usia diantara 16th dan 18th, maksimum angkat 18 kg
Pria
usia lebih dari 18th, tidak ada batasan angkat
Wanita
usia diantara 16th dan 18th, maksimum angkat 11 kg
Wanita
usia lebih dari 18th, maksimum angkat adalah 16 kg
Batasan angkat ini dapat membantu untuk mengurangi
rasa nyeri, ngilu pada tulang belakang bagi para wanita (back injuries
incidence to women). Batasan angkat ini akan mengurangi ketidaknyamanan
kerja pada tulang belakang, terutama bagi operator untuk pekerjaan berat.
Batasan angkat di Indonesia
ditetapkan melalui Peraturan Menteri Tenaga
Kerja
Transmigrasi dan Koperasi No. PER.01/Men/1978 tentang
Kesehatan dan Keselamatan
Kerja dalam bidang Penebangan dan Pengangkutan Kayu. Beban angkat ditetapkan
dengan dasar
perhitungan 5/7
kg berat badan.
b. Batasan Angkat Secara
Biomekanika
Batasan angkat biomekanika adalah analisa biomekanika tentang rentang postur atau posisi aktivitas kerja, ukuran
badan dan ukuran manusia. Kriteria
keselamatan adalah berdasarkan beban tekan (compression
load) pada intervertebral disc antara lumbar nomor lima dan sacrum nomor satu (L5/S1). National Institute of Occupational Safety and Health (NIOSH) Amerika Serikat merekomendasikan batasan angkat sebagai berikut :
1. Batasan gaya angkat maksimum yang diijinkan (the maximum permissible limit) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar 6500 Newton pada L5/S1.
2. Batasan gaya angkat normal (the action limit) adalah berdasarkan gaya tekan
sebesar 3500 Newton pada L5/S1.
Batasan gaya angkat normal ditentukan melalui rumus :
AL(kg) = 40 (15/H) (1-0,004/V-75/) (0,7+7,5/D) (1-F/Fmax)
Dimana :
H
= Posisi horizontal (cm), arah titik tengah antara mata kaki pada tempat
V
= Posisi vertikal (cm) pada tempat asal sebelum beban diangkat
D = Jarak angkat vertikal (cm) antara tempat asal dan tujuan dari aktivitas angkat tersebut.
Fmax = Frekuensi maksimum yang dapat dilaksanakan
Tabel.
Batasan Gaya Angkat Normal
Posisi tubuh
|
|||||
Periode angkatan
|
|||||
Berdiri
|
Membungkuk
V < 75
|
||||
V > 75
|
|||||
1 jam
|
18
|
15
|
|||
8 jam
|
15
|
12
|
|||
Sumber : (Eko nurmianto, 1998:167).
c. Batasan Angkat Secara
Fisiologis
Batasan angkatan secara fisiologis ditetapkan dengan mempertimbangkan rata-rata beban metabolisme dan aktivitas angkat berulang (repetitive lifting) atau dapat juga
ditentukan dari jumlah konsumsi oksigen. Metode lain
adalah dengan cara pengukuran langsung pada tekanan yang ada di adalam perut (intra abdominal pressure) selama aktivitas
angkat dan
menghasilkan
batasan gaya angkat terhadap beban kerja manual.
d. Batasan Angkat Secara Psiko –
Fisik
Metode ini berdasarkan pada sejumlah
eksperimen yang
berupaya mendapatkan berat pada berbagai
keadaan dan ketinggian beban yang berbeda-beda. Ada tiga kategori posisi angkat yang ditemukan yaitu :
1.Dari permukaan lantai ke ketinggian genggaman (knuckle height)
2.Dari ketinggian genggaman tangan (knuckle
height) ke
ketinggian bahu (shoulder height)
3.Dari ketinggian bahu
(shoulder height) ke
maksium jangkauan
tangan vertikal (vertical arm reach)
Batasan berat beban
yang dapat
diangkat berdasarkan
kategori di atas dapat dilihat pada tabel – tabel berikut ini :
Tabel.
Berat beban yang dapat ditolelir untuk aktivitas angkat yang sering
Frekuensi angkat
|
Berat yang boleh diangkat (kg)
|
Satu kali dalam 30 menit
Satu kali dalam 25 menit
Satu kali dalam 15 – 20 menit
Satu kali dalam 10 – 15 menit
Satu kali dalam 5 menit
|
95
85
66
50
33
|
Sumber : (Eko Nurmianto,1998 :179).
Tabel.
Batasan berat beban dengan metode berat beban yang dapat ditolerir untuk
diangkat
Jenis
Kelamin
|
Jarak antara
pusat gravitasi
beban dan pekerja
|
Berat yang
Diijinkan
|
Jarak antara
tinggi lantai sampai
tinggi genggaman tangan
|
Jarak antara
genggaman tangan
sampai
bahu (cm)
|
Jarak
antar tinggi
bahu sampai
jangkauan
tangan
(cm)
|
Pria
|
380
|
Optimum
Maksimum
|
23
29
|
19
24
|
18
23
|
250
|
Optimum
Maksimum
|
26
34
|
19
24
|
18
23
|
|
180
|
Optimum
Maksimum
|
79
37
|
20
26
|
19
24
|
|
Wanita
|
380
|
Optimum
Maksimum
|
17
20
|
13
15
|
12
14
|
250
|
Optimum
Maksimum
|
20
24
|
13
15
|
12
14
|
|
180
|
Optimum
Maksimum
|
22
26
|
14
17
|
13
15
|
Sumber : (Eko Nurmianto,1998:149)
Pekerja yang boleh mengangkat beban maksimum adalah beban pekerja yang sehat berusia 18 – 60 tahun. Diharapkan beban yang diangkat pada batas ini dilaksanakan dibawah
pengawasan supervisor yang bertangging jawab menangani
masalah pemilihan
pekerja yang
mempunyai kondisi fisik,
kebugara dan pengalaman yang cukup. Pekerja
yang berusia pada atau lebih dari 60 tahun tidak diharapkan untuk
mengangkat
beban optimum.
Data-data yang ada pada tabel
diatas dikurangi 25 % untuk pekerja yang berusia dibawah 16 tahun.
8. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi MMH
Semua aktivitas manual handling melibatkan
faktor-faktor sebagai berikut :
1.Karakteristik Pekerja
Karakteristik pekerja masing-masing
berbeda dan mempengaruhi jenis dan jumlah pekerjaan yang dapat dilakukan.
Karakteristik pekerja terdiri dari :
a. Fisik,
yang meliputi ukuran pekerja secara umum seperti usia, jenis kelamin,
antropometri, dan postur tubuh.
b. Kemampuan
sensorik, ukuran kemampuan sensorik pekerja yang meliputi penglihatan,
pendengaran, kinestetik, sistem keseimbangan dan proprioceptive.
c. Motorik,
ukuran kemampuan motorik/gerak pekerja yang meliputi kekuatan, ketahanan,
jangkauan, dan karakter kinematis.
d. Psikomotorik,
mengukur kemampuan pekerja menghadapi proses mental dan gerak seperti memproses
informasi, waktu respon, dan koordinasi
e. Personal,
ukuran nilai dan kepuasan pekerja dengan melihat tingkah laku, penerimaan
resiko, persepsi kebutuhan ekonomi, dll
f. Training/pelatihan,
ukuran kemampuan pendidikan pekerja dalam training formal atau keterampilan
dalam menangani instruksi MMH.
g. Status
kesehatan
h. Aktivitas
dalam waktu luang
2.Karakteritik Material
Karakteristikmaterial atau bahan, meliputi :
a. Beban,
ukuran berat benda, usaha yang dibutuhkan untuk mengangkat, maupun momen
inersia benda.
b. Dimensi,
atau ukuran benda seperti lebar, panjang, tebal, dan bentuk benda baik itu
kotak, silinder, dll.
c. Distribusi
beban, ukuran letak unit CG dengan reaksi pekerja untuk membawa dengan satu
atau dua tangan.
d. Kopling,
cara membawa benda oleh pekerja berkaitan dengan tekstur, permukaan, atau
letak.
e. Stabilitas
beban, ukuran konsistensi lokasi CM.
3.Karakteristik Tugas/Pekerjaan
Karakeristik tugas ini meliputi kondisi pekerjaan manual
material handling yang akan dilakukan. Terdiri dari :
a. Geometri
tempat kerja, termasuk didalamnya jarak pergerakan, langkah yang harus
ditempuh, dll.
b. Frekuensi,
waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan termasuk frekuensi
pekerjaan yang dilakukan.
c. Kompleksitas
pekerjaan, termasuk didalamnya ketepatan penempatan, tujuan aktivitas maupun
komponen pendukungnya.
d. Lingkungan
kerja, seperti suhu, pencahayaan, kebisingan, getaran, bau bauan, juga daya
tarik kaki.
4. Sikap Kerja
Penanganan manual material handling juga melibatkan
metode kerja atau sikap dalam menyelesaikan pekerjaan/tugas. Pengamatan
meliputi pada :
a. Individu,
merupakan ukuran metode operasional, seperti kecepatan, ketepatan, cara/postur
saat memindahkan.
b. Organisasi,
berkaitan dengan organisasi kerja seperti luas bangunan pabrik, keberadaan
tenaga medis, maupun utilitas kerjasama tim.
c. Administrasi,
seperti sistem insentif untuk keselamatan kerja, kompensasi, rotasi kerja
maupun pengendalian dan pelatihan keselamatan.
Aktivitas manual material handling banyak
digunakan karena memiliki fleksibilitas yang tinggi, murah dan mudah
diaplikasikan. Akan tetapi berdasar data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
aktivitas manual material handling juga diikuti dengan resiko apabila
diterapkan pada kondisi lingkungan kerja yang kurang memadai, alat yang kurang
mendukung, dan sikap kerja yang salah. Penelitian yang dilakukan NIOSH (NIOSH,
1981) memperlihatkan sebuah statistik yang menyatakan bahwa dua -pertiga dari
kecelakaan akibat tekanan berlebihan, berkaitan dengan aktivitas menaikkan
barang (lifting loads activity).
9. Jarak
Angkat
Penelitian yang
dilakukan oleh Gracovetsjy untuk aktifitas angkat material,
mengemukakan bahwa
65% kasus diakibatkan oleh
kerusakan akibat beban torsi (Torsional Damage) pada sambungan
apophyeseal (sambungan yang berada diantara
vertebral), ligamen dan annulus fibrusus (lapisan
pembungkus disk). Kerusakan tersebut lambat untuk
disembuhkan. Dia
juga menemukan bahwa lamanya pembebanan terhadap
segmen tulang,
merupakan factor
yang dapat mempertinggi
derajat kerusakan (Eko Nurmianto,2003:164).
Batasan gaya angkat maksimum yang dijinkan (the Maximum Permissible Limit) yang direkomendasikan oleh NIOSH (1981) adalah berdasarkan gaya tekan
6500 Newton pada L5/S1 (Lumbar nomor 5/Sakrum nomor 1). Namun hanya 25%
pria dan 1% wanita yang diperkirakan mampu melewati batasan gaya angkat ini.
Batasan gaya
angkat normal (the
Action
Limit)
diberikan
oleh NIOSH (1981) dan berdasar gaya tekan 3500 Newton pada L5/SI (Lumbar 5/Sakrum 1). Ada 99%
pria dan 75% wanita yang mampu mengangkat
beban diatas
ini (Eko Nurmianto, 2003:165).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Material Handling adalah seni dan ilmu yang meliputi
penanganan (handling), pemindahan (moving), pengepakan (packaging),
penyimpanan (storing), dan pengawasan (controlling) dari material
dengan segala bentuknya. Manfaat yang diperoleh dari material handling diantaranya
yaitu untuk penghematan
biaya produksi, penurunan biaya persediaan, penggunaan ruangan lebih efisien, serta meningkatkan
produktifitas perusahaan. Selain itu, material
handling sangat berpengaruh sebagai 50% penyebab kecelakaan yang terjadi
dalam industri dan merupakan 40% dari 80% seluruh biaya operasional. Dalam
pelaksanaannya, tata letak dan material handling memiliki hubungan yang tidak
dapat dipisahkan satu sama lain.
Daftar Pustaka
Mali, P. (1978), Improving Total Productivity: MBO Strategies for Business Government and
Non Profit Organization, New York :
John Wiley & Sons.
Nurmianto, E. (1996), Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Surabaya: Guna Widya. Promodel
Corporation.
(1996), User’s guide
of ProModel Version
3.0, Manufacturing
Simulation Software, Promodel Corporation.Panero, J. dan Zelnik, M. (2003), Dimensi
Manusia dan Ruang Interior, Jakarta:
Erlangga.
Summanth, D. J. (1984), Productivity Engineering And Measurement, New York: Mc Graw
Hill.
Thompkins, J.A., White,
J.A.,
Bozer,
Y.A., Edward, F.H.,
Tanchoco,
J.M.A., Trevino, J.
(1996), Facilities
Planning. Canada: John Wiley & Sons, Inc.
Wignjosoebroto, S. (1995), Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu, Surabaya: Guna Widya.

Komentar
Posting Komentar